
Suatu hari di sebuah hutan yang lebat, tinggallah keluarga kelinci yang terdiri dari Ayah kelinci, ibu kelinci dan anak kelinci. Ayah dan ibu kelinci sangat menyayangi anak kelinci. Mereka hidup bahagia.

Hingga suatu ketika, ayah kelinci tiba-tiba sakit parah. Tak ada obat yang bisa menyembuhkan ayah kelinci.
Dan akhirnya ayah kelinci pun meninggal. Anak dan ibu kelinci sedih sekali
“hu… hu… hu… Ibu… kenapa ayah meninggal secepat ini. Aku kan masih ingin bermain bersama ayah. Hu.. hu… hu… ayah… ayah…,” tangis anak kelinci meratapi kematian ayahnya.



“Sudah… sudah nak. Jangan menangis. Ini sudah takdir Allah. Kita harus ikhlas melepas kepergian ayahmu. Kita harus mendoakan ayah dan tak boleh larut dalam kesedihan. Kan ada ibu yang menemanimu disini.” Hibur sang ibu kelinci.
Sejak kecil, anak Kelinci selalu bergantung pada orang tuanya. Karena ia anak tunggal, orang tuanya cenderung memanjakannya. Hingga ia menjadi anak yang sedikit pemalas dan manja.
Sepeninggal ayahnya, ternyata sikap anak kelinci tidak berubah. Ia masih suka malas-malasan dan manja pada ibunya. Bahkan ia kini menjadi binatang yang sombong, semena-mena, pemalas dan selalu ingin menang sendiri. Anak kelinci tidak pernah membantu ibunya. Padahal sepeninggal ayahnya, ibunya lah yang bekerja membanting tulang sendiri.
Setiap pagi hari ibu kelinci pergi ke kebun, siang harinya pulang untuk memasakkan makanan bagi anak kelinci. Setelah makan, ibu kelinci kembali ke kebun melanjutkan pekerjaanya. Melihat ibunya seperti itu, anak kelinci tak malah membantu tapi hanya sibuk tidur dan bermalas-malasan.


Sang ibu kelinci sungguh sangat sabar dan tidak pernah marah kepada anaknya. Tapi kesabaran sang ibu malah dimanfaatkan oleh anaknya.
Nah, setelah berhari-hari dan berminggu-minggu tanaman di kebun dirawat dengan baik oleh ibu kelinci, akhirnya, musim panen pun tiba. Wortel, kubis dan kentang di kebun sudah masak semua, dengan penuh sabar sang ibu bekerja hingga larut malam untuk memanen sayuran seorang diri. Sang ibu pun memanggul hasil kebunnya pulang ke rumah. Anak kelinci tak pernah membantunya.
Malah, anak Kelinci menyambut kedatangan sang ibu dengan marah-marah.
‘’Ibu! Dari mana saja seharian ini? Sampai pulang larut malam. Aku sangat kelaparan!’’ bentak sang anak.
“Sabar anakku, kan ibu harus memanen hasil kebun yang banyak ini. Iya… iya… ibu akan memasakkan makanan untukmu. Maaf ya membuatmu menunggu lama.” Jawab sang ibu sambil langsung ke dapur untuk memasak sayur.
Meskipun sang ibu saat itu sangat lelah. Ia tetap memasak makanan untuk anaknya. Dan menuntaskan pekerjaan rumah seperti mencuci dan menyapu. Setelah selesai semuanya, ia pun langsung tertidur.
Pagi harinya, Sang ibu tak juga keluar dari kamarnya. Ternyata Sang ibu Kelinci jatuh sakit karena kelelahan.
Anak kelinci yang bangun, tak peduli malah marah-marah minta makanan ke ibunya.
‘’Ibu! Ibu! Kenapa ibu belum masak. Cepatlah bangun. Hari sudah siang, aku sangat lapar. Masakkan sesuatu untukku!’’ ujar anak Kelinci marah ketika melihat sang ibu masih di tempat tidur.
- Full access to our public library
- Save favorite books
- Interact with authors

Heni Dwi Utami. Biasa disapa Heni. Penulis adalah seorang guru SD yang menyukai dunia anak-anak dan suka berbagi ilmu pada siapapun.

- < BEGINNING
- END >
-
DOWNLOAD
-
LIKE(1)
-
COMMENT()
-
SHARE
-
SAVE
-
BUY THIS BOOK
(from $7.99+) -
BUY THIS BOOK
(from $7.99+) - DOWNLOAD
- LIKE (1)
- COMMENT ()
- SHARE
- SAVE
- Report
-
BUY
-
LIKE(1)
-
COMMENT()
-
SHARE
- Excessive Violence
- Harassment
- Offensive Pictures
- Spelling & Grammar Errors
- Unfinished
- Other Problem

COMMENTS
Click 'X' to report any negative comments. Thanks!